"second plan" pendidikan kita

Awal trend kasus aktif Covid-19 membawa secercah harapan bagi dunia pendidikan, seperti mati suri dengan kebijakan difabel untuk beradaptasi dengan situasi Covid-19. Situasi ini tentu akan membawa kembali euforia pembelajaran tatap muka ke sekolah. Namun, sembari menunggu berakhirnya pelarangan sekolah di masa PPKM ini, segala sesuatunya perlu kita persiapkan, agar euforia kembali ke sekolah tidak berlebihan.

Namun, magnet ceria sekolah sedikit banyak telah hilang selama pandemi. Kapan lagi kita bisa melihat senyum anak sekolah? Kami membayangkan betapa bahagianya ketika kegembiraan itu kembali. Kegembiraan melihat anak-anak berseragam sekolah bercanda dengan teman sekolahnya.

Kami optimis, ekspresi bahagia kembali terlihat di wajah anak-anak. Kegembiraan yang bisa terasa berbeda dari bermain bersama. Mungkin yang suka pakai seragam sekolah itu yang sering main bareng.

Namun, kegembiraan ini bisa cepat menguap. Pada saat yang sama, keinginan yang tinggi untuk bersekolah tidak sesuai dengan kepatuhan dan kedisiplinan dalam pelaksanaan perilaku hidup sehat. Setidaknya Anda bisa melihat bahwa masih banyak anak-anak di keramaian, bahkan tidak ada topeng.

Jangan sampai euforia belajar tatap muka mengorbankan kesehatan dan keselamatan seluruh anak sekolah. Adanya pandemi setidaknya mengajarkan kita semua untuk diam saja dan tidak memperburuk kondisi pendidikan kita. Ada banyak perkembangan inovatif yang bisa kita coba terapkan agar kita tidak lagi lengah dalam situasi serupa. Pertama, jangan hanya mengandalkan pembelajaran tatap muka.

Pengajaran tatap muka memang merupakan aset berharga bagi pendidikan kita. Wajah belajar memberikan jaminan psikologis bahwa anak sudah bersekolah dan guru sedang mengajar. Sederhananya, pengajaran wajib tidak lagi diperlukan dengan pengajaran tatap muka. Tentu saja tidak; pembelajaran tatap muka sangat dibutuhkan dan memberikan pemahaman informasi yang lebih mendalam dibandingkan dengan pembelajaran online.

Kedua, jangan salahkan pembelajaran online. Dalam Ikhtisar Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Siswa, saya menemukan bahwa latihan yang dilakukan melalui sistem daring dirancang agar interaktif dan menarik.

Guru dapat menjelaskan dengan animasi yang menarik, siswa juga antusias dalam belajar, menjawab pertanyaan, aktif bereaksi. Dengan bantuan catatan, guru mempraktekkan packing yang baik. Membuat powerpoint yang menarik, terus berinteraksi dengan siswa, berkomunikasi dua arah, dan menulis di papan tulis digital terlihat sangat keren.

Ketiga, pembelajaran tidak lagi hanya bertumpu pada nilai-nilai kognitif semata. Konsep belajar mandiri yang ditegaskan Mendikbud cocok untuk memutus lingkaran setan belajar hanya untuk mencari nilai, bukan pemahaman dan makna belajar dalam kaitannya dengan konteks nyata. Hilangkan jiwa-jiwa yang ingin murni berorientasi kognitif dan dapat dicapai secara intelektual. Hapus juara kelas, papan peringkat, dan sejenisnya.

Apa artinya bersaing dan bersaing untuk prestasi akademik tidak baik? Tentu saja bagus. Permasalahannya mata pelajaran yang diperiksa, mata pelajaran yang diperiksa, masih terfokus pada hapalan materi, belum pada materi yang membimbing siswa alias siswa untuk menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.

Comments

Popular posts from this blog

uprak calista verena erlin/ 9D / 09